Recent posts

Kajian Relasi Desain Dan Media

Kiriman Arya Pageh Wibawa, Dosen PS Desain Komunikasi Visual

I. Pendahuluan

Manusia sebagai makhluk sosial tentunya akan berinteraksi satu dengan yang lainnya. Interaksi adalah sebuah bentuk komunikasi. Macam-macam komunikasi sebagai bentuk interaksi manusia terdiri dari intrapersonal, interpersonal, kelompok kecil (small group), publik komunikasi, mass komunikasi (adler, 2006, p.6-8). Pembagian ini merupakan berdasarkan jumlah orang yang berkomunikasi, dimana tentunya mass komunikasi merupakan jumlah terbesar orang dimana memerlukan media yang harus memediasi komunikasi diantara mereka.  Media yang mereka gunakan biasanya disebut mass media seperti koran, majalah, televisi, radio dan sebagainya.

Mass media berasal dari dua kata yaitu “mass” dan “media”. Mass mengacu pada penerimaan media secara besar-besaran (massive) seperti televisi, film dan sebagainya (Laughey, 2007, p. 1).  Media merupakan bentuk jamak dari kata medium yang pada dasarnya adalah sarana teknis atau fisik untuk merubah pesan menjadi sinyal yang dapat ditransmisikan melalui saluran tersebut (Fiske, 1990, p.29). Sehingga mass media adalah no interaction among those co-present can take place between sender and receivers (tidak adanya interaksi diantara kehadiran media-media tersebut yang dapat mengambil tempat antara pengirim dan penerima) (Luhmann, 2000, p.2).  Media bisa dibagi-bagi menjadi tiga kategori dasar (Danesi, 2002, p. 8) yaitu medium alami, medium buatan dan medium mekanis. Medium alami yaitu yang memancarkan gagasan dengan cara berbasis biologis (suara, ekpresi wajah, gerakan tangan, dan sebagainya). Medium buatan yaitu bagaimana gagasan direpresentasikan dan dikirimkan menggunakan satu artefak tertentu (buku, lukisan, patung, surat dan sebagainya). Medium mekanis, bagaimana gagasan dikirimkan menggunakan peralatan mekanis temuan manusia seperti telepon, radio, pesawat televisi, komputer, dan sebagainya.

II. Sejarah Perkembangan Media

Sebelum munculnya mass media yang ada sekarang manusia menurut sejarahnya menggunakan bahasa lisan dalam berkomunikasi. Bahasa lisan berbentuk tutur yang bersifat mitologis. Mitos-mitos lisan yang pertama adalah “teori tentang dunia” yang dikenal sebagai kosmogonik, kisah-kisah ini memiliki fungsi dalam menjelaskan bagaimana dunia terbentuk dan peran apa yang diberikan kepada manusia dalam tatanan kosmologis yang ada (Danesi, 2002, p.67).

Bahasa tulis muncul pada awalnya dipakai untuk merepresentasikan kisah-kisah karakter, dan simbol mitis. Piktograf sebagai awal munculnya bahasa tulis ditemukan datang dari zaman neolitik di Asia Barat. Mereka adalah bentuk-bentuk dasar pada benda-benda tanah liat yang mungkin dipakai untuk membuat cetakan pembuat citra (Schmandt-Besserat, 1978). Pemakaian yang teratur untuk pelbagai fungsi praktik sosial adalah yang dipakai di dalam sistem Sumeria sekitar tahun 3500 SM. Ini adalah sistem yang sangat luwes karena didalamnya terdapat tanda-tanda gambar yang dipakai untuk suatu pengertian abstrak seperti “tidur” direpresentasikan dengan gambar seseorang yang sedang telentang. Piktograf yang dipakai untuk merepresentasikan abstraksi kemudian akan lebih tepat disebut sebagai ideograf. Ideograf Sumeria disebut sebagai “cuneiform” yang artinya “berbentuk baji”. Kemudian Mesir sekitar tahun 3000 SM menggunakan sistem piktograf yang dikenal dengan nama “Hieroglif” yang dipakai untuk pelbagai fungsi-fungsi sosial, untuk mencatat nama-nama serta gelar para tokoh dan dewa. Tata penulisan Hieroglif pada tahun 2700 SM diganti menjadi bentuk yang dikenal “hieratik” ini dilakukan dengan menuliskan pena jerami tumpul dan tinta pada sebuah papyrus (awal dari penemuan bahan kertas), bukan pada kepingan tanah liat atau pada dinding.

Ketika piktografik menjadi semakin dipakai luas didalam peradaban kuno, lambat laun ia menjadi sistem yang semakin canggih, dengan cirri-ciri gambar yang semakin “padat”, sehingga bisa digunakan dengan lebih efisien. Dari perkembangan ini, terkristalisasilah sistem alphabet sejati. Alphabet adalah sistem simbol abstrak yang disebut huruf atau karakter, yang tidak mewakili seluruh konsep, melainkan bunyi-bunyi yang menyusun kata-kata. Alphabet ini merupakan capaian yang luar biasa. Ia memungkinkan dilakukannya perekaman secara efisiensi, pengabadian, dan penghantaran pengetahuan dalam bentuk buku. Seperti diungkapkan McLuhan (1964), kemelekhurufan buku merupakan sumber dari istilah obyektifitas. Tidak seperti nenek moyangnya yang melakukan komunikasi secara lisan, masyarakat-masyarakat yang sudah melek huruf cenderung memahami pengetahuan dan gagasan sebagai sesuatu yang terpisah dari yang memberikannya, dan dari sini mereka melihat bahwa sistem pengetahuan adalah kumpulan data obyektif yang mandiri.

Kajian Relasi Desain Dan Media, Selengkapnya

Untuk Memberikan komentar gunakan Fasilitas Forum > Berita. Fasilitas ini dapat diakses melalui alamat: http://forum.isi-dps.ac.id

Facebook Share

TENARERE : A CULTURAL TRADITION SONG AND DANCE FOR STRENGTHENING BROTHERHOOD UNITY OF ADONARA COMMUNITY MEMBERS IN EAST NUSA TENGGARA

Tenarere as a cultural art tradition of the ethnic group in Adonara area (East Nusa Tenggara) belongs to a ritual dance. The performance of this art firm is used as an annual celebration for recalling the historical journey of their great achestors from their former lan (Moluccus islands) to their present home island (Adonara). In order to explicate the underlying meaning of the dance, the study is done through the viewpoint of the three aspects of cultural paradigm (form-function-meaning). It is found that this cultural art tradition has a multi-dimensional function-ritually, historical, aesthetically, and socially. One of its social functions is to strengthen the brotherhood unity of the knirek and ata gooken who have been living spreadingly all over the Adonara island.

NAWASWARA : 9-TONE GAMELAN MUSIC UNDER CONSTRUCTION

The grandest feature among hundred-art forms presented for the famous Bali annual art festival is the annual Gong Kebyar competition, to which the major/regent of each 9-regency/city throughout the island must allocate more than hundred millions of rupiah to defray the cost of such performance-art production. Yet many regent troupes, especially the winning groups, still indeed need to find additional budget in order to present their fullest scale and highest level of aesthetic expectations of the year. For example, in 2004, when gamelan troupe from Tegalliggah village presented Gianyar regency, the group spent no less than Rp. 245.000.000 (two hundred and fourtyfive million rupiah) in order to achieve its ideal to be the first winner.

POLITICS AND CANON OF AUDIENCE: TOURISTS AND LOCAL CULTURAL PERFORMANCES

Tourists become important audience of traditional performing arts in Ubud. Crossing through several boundaries created by agents of tourism, from tour leader to local guide, hotel crew to hawker, not only the tourist, the audience but even the performers themselves finally arrive at the venue for the performance. In this process of becoming an audience, a tourist becomes a ‘meta-tourist’, Urry calls him or her a ‘post-tourist’ (Urry 2002:91), someone who is conscious of being a tourist in a certain point of time and place in his or her life, and the one who is always on the process of becoming a tourists. Since local performers also know that they are performing it for the tourists, by the same taken it is believed that they also become ‘meta-performers’ for the tourist, someone who are conscious of doing it for some kinds of audience. And, thus performance in such context itself gets ‘meta-local’ and ‘meta-touristic’ quality since it tries its best to remain local.

THE CERAMIC HANDCRAFT ARTS OF KASONGAN, YOGYAKARTA, IN GLOBALIZATION ERA

Kasongan village represent one of the biggest producers of ceramic handycraft in Yogyakarta. Its presence becomes the measuring rod of the development of ceramic handicraft villages in Indonesia, especially in Java. It used to be a small and dusty village in a slum area of the district. Most of its villagers worked as household earthenware appliances makers (pekundhi, Javanese) such as mortars for braying condiment (cobek), charcoal braziers (anglo), firewood braziers (keren), earthen containers (kuwali), and so on. They worked with their natural and simple artistic sensitivity and craftsmanship as the involvement of artists, arts observers, merchants, tourists, and government that helped the village develop into an internationally well-known ceramic handicraft arts tourism area. In a global business, the ceramic handicraft artistic products of the village have been exported to various countries. This paper reports a descriptive study on the developmental paradigm of Kasongan ceramic handicraft arts up to the present